Dwi Angga Oktavianto

Transformasi pendidikan dimulai dari kita. Sahabatnya siswa dalam belajar.

Belajar Mendeskripsikan Batuan Beku

Pengerian Batuan Beku Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, “api”) adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan […]

Belajar Mendeskripsikan Batuan Beku Read More »

GOOGLE EARTH MEDIA DALAM BELAJAR GEOLOGI

Bila beruntung, dan geolog di lapangan sangat membutuhkan keberuntungan, kerapkali lokasi fieldwork kita secara kebetulan didukung oleh citra satelit Google Earth yang terlihat dengan jelas, dan tentunya gratis. Kali ini yang dikunjungi untuk melakukan fieldwork ialah Formasi Kerek berumur Miosen Tengah yang tersingkap di dasar Kali Bancak, Grobogan. Kunjungan ini hanya berselang dua bulan dari

GOOGLE EARTH MEDIA DALAM BELAJAR GEOLOGI Read More »

TAXONOMY BLOOM, APAKAH MASIH RELEVAN? (Bagian 1)

Taxonomy merupakan kata kerja pada setiap tujuan pembelajaran. Ini digunakan untuk mengklasifikasikan pernyataan yang diharapkan atau apa yang akan siswa pelajari sebagai hasil dari instruksi (Krathwol, 2002). Apakah tujuan pembelajaran yang tersurat di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Bapak/Ibu ada kata kerjanya? Benyamin S. Bloom pada tahun 1949 memprakrasai untuk menyamakan persepsi tentang “kata kerja” yang

TAXONOMY BLOOM, APAKAH MASIH RELEVAN? (Bagian 1) Read More »

ANTARA SKETSA DAN GEOLOGI

Saat di lapangan melakukan pengamatan berbagai bentang alam, tentunya kita akan mengabadikannya. Terutama, bagi yang suka pemandangan alam. Salah satu ilmu yang berhubungan dengan bentang alam ialah geologi. Namun, apakah kita hanya bisa mengandalkan kamera dari gawai pintar kita saja? Tidak, kita bisa menggambarnya dalam wujud sketsa. Sketsa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti

ANTARA SKETSA DAN GEOLOGI Read More »

https://pendidikangeosains.id/?p=1581&preview=true

GAMIFIKASI PEMBELAJARAN GEOSAINS

Data menunjukkan bahwa Pasar Game di Indonesia pada tahun 2018 sebesar US$ 1.1 Billion (sekitar Rp 15 Trilyun). Sangat besar bukan? Jadi kita tidak perlu terlalu heran jika sering melihat siswa main game, bahkan orang dewasa pun banyak yang main game? Hampir semua siswa menginstal aplikasi game di telephone pintarnya. Game yang diinstal beragam, mulai

GAMIFIKASI PEMBELAJARAN GEOSAINS Read More »

FORMASI GEOLOGI: BELAJAR DARI GRAND CANYON

Sebelumnya banyak pembaca di pendidikangeosains.id yang menyimak artikel “Formasi Tanjung: Brankas yang Bikin Kaya Binuang”. Ternyata pembaca bukan saja berasal dari siswa atau mahasiswa yang sedang belajar geologi, tetapi juga masyarakat umum yang masih awam dengan istilah-istilah dalam geologi. Banyak yang bertanya-tanya, apa itu formasi geologi? Pembaca pasti pernah mendengar kata formasi, bukan? Entah itu

FORMASI GEOLOGI: BELAJAR DARI GRAND CANYON Read More »

GEOLOGI PERTAMBANGAN: SEBUAH PENGANTAR

Istilah Geologi Pertambangan berawal dari Geologi Tambang (Mining Geology). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tambang berarti lombong (cebakan, parit, lubang di dalam tanah) tempat menggali (mengambil) hasil dari dalam bumi berupa bijiih logam batu bara, dan sebagainya. Sedangkan pertambangan adalah urusan (pekerjaan dan sebagainya) yang berkenaan dengan tambang. Penulis juga tidak tahu pastinya kapan

GEOLOGI PERTAMBANGAN: SEBUAH PENGANTAR Read More »

FORMASI TANJUNG: BRANKAS YANG BIKIN KAYA BINUANG

Cekungan Barito bagian timur memiliki Formasi Tanjung. Formasi tersebut merupakan batuan sedimen tersier tertua di daerah ini. Selain Formasi Tanjung, di daerah ini juga dialasi oleh batuan sedimen Kelompok Pitap, batuan vulkanik Kelompok Haruyan, Formasi Batununggal dan Paniungan, Granit Belawaian, dan batuan ultrabasa. Cekungan Barito, sebagai salah satu cekungan tempat beraku­mulasinya sumber daya energi, memiliki

FORMASI TANJUNG: BRANKAS YANG BIKIN KAYA BINUANG Read More »

BELAJAR PENDEKATAN KOMPLEKS WILAYAH (REGIONAL COMPLEX APPROACH)

Setelah postingan sebelumnya kita belajar pendekatan keruangan dan pendekatan ekologis, kini saatnya kita belajar pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan ini tak lain merupakan integrasi dari pendekatan keruangan dan ekologis (Yunus, 2008). Holt-Jensen (2009) lebih memilih kata kombinasi daripada integrasi. Namun, kedua kata tersebut tidak memiliki perbedaan yang jauh. Perlu digaris bawahi bahwa penggunaan istilah regional complex

BELAJAR PENDEKATAN KOMPLEKS WILAYAH (REGIONAL COMPLEX APPROACH) Read More »

BELAJAR PENDEKATAN KELINGKUNGAN (ECOLOGICAL APPROACH)

Sebelum kita mempelajari pendekatan ekologi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tentang ekologi. Istilah ekologi mempunyai arti ilmu yang mempelajari keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya (Worster, 1977). Dalam perkembangannya ilmu ekologi terbagi menjadi tiga arah (fokus) (Yunus, 2008). Pertama, fokus pada analisis kerterkaitan atau interaksi antar organisme dan juga dengan lingkungan biotik dan abiotiknya serta

BELAJAR PENDEKATAN KELINGKUNGAN (ECOLOGICAL APPROACH) Read More »