Sebuah penghormatan dari seorang pembelajar jauh di Indonesia
Pada 2026, komunitas pendidikan geografi dunia kehilangan salah satu tokoh terbesarnya, Dr. Sarah Witham Bednarz. Jurnal Journal of Geography menerbitkan artikel penghormatan yang ditulis oleh mantan mahasiswa doktoralnya, Injeong Jo dan Gillian Acheson, bersama sejumlah kolega: Derek Alderman, Charlie Fitzpatrick, Ken Foote, Kenneth Keller, dan Jerry Mitchell.
Bagi saya, kabar ini terasa personal. Saat menempuh S2, tulisan dan penelitian beliau menjadi salah satu sumber inspirasi terbesar saya. Terutama tulisan-tulisan terkait spatial thinking. Saya bahkan pernah berkorespondensi lewat email dengan beliau, dan pernah berencana melanjutkan studi doktoral pendidikan geografi di Texas A&M University, kampus tempat beliau mengabdi. Tulisan ini adalah cara saya mengucapkan terima kasih sekaligus memperkenalkan beliau kepada pembaca Indonesia.
Dari “natural geographer” menjadi guru
Sarah menyebut dirinya “natural geographer”, orang yang sejak kecil penasaran pada tempat dan manusia yang hidup di dalamnya. Ia tumbuh berpindah-pindah negara karena pekerjaan ayahnya di perusahaan minyak, dan kelas geografi pertamanya ia ikuti di sebuah SMA di Selandia Baru. Ia kemudian kuliah di Mount Holyoke College (lulus 1973) dan melanjutkan ke University of Chicago, tempat ia mendalami geografi dan pendidikan guru.
Satu momen di Chicago menjadi penentu. Ketika ditanya oleh Profesor William Pattison apa yang membuatnya bersemangat, Sarah menjawab, “I think everyone should know more about geography.” Keyakinan sederhana itu ternyata menjadi benang merah seluruh hidup profesionalnya.
Hal yang jarang diketahui: sebelum menjadi profesor, Sarah mengajar di SMP dan SMA di Illinois dan Texas selama sekitar 20 tahun. Dari ruang kelas itulah muncul pertanyaan yang kelak menjadi inti penelitiannya: mengapa sebagian siswa mudah memahami peta dan konsep keruangan, sementara yang lain kesulitan? Pertanyaan ini membawanya kembali ke bangku kuliah. Ia meraih Ph.D. bidang Curriculum and Instruction di Texas A&M (1992), bergabung dengan fakultas geografi di sana pada 1995, dan menjadi profesor penuh pada 2007. Ia juga pernah menjabat Associate Dean bidang akademik di College of Geosciences (2008–2014).
Bagi kita yang berprofesi guru atau dosen, ada pelajaran di sini. Riset yang baik sering lahir dari kegelisahan di ruang kelas.
Sumbangan pemikiran: dari menghafal menjadi berpikir
Menurut Jerry Mitchell, beberapa kontribusi utama Sarah dapat dirangkum sebagai berikut.
1. Berpikir spasial sebagai inti pendidikan geografi. Sarah menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan geografi tidak diukur dari kemampuan siswa menghafal nama ibu kota atau sungai. Ukurannya adalah kemampuan mengenali pola, menganalisis hubungan keruangan, bernalar lintas skala, dan memakai representasi geografis untuk memecahkan masalah.
2. Literasi spasial. Bersama Kemp (2011), ia memetakan literasi spasial sebagai rangkaian keterampilan kognitif yang dapat dipelajari: visualisasi, representasi, penalaran, dan komunikasi. Konsep ini memberi guru dan perancang kurikulum bahasa bersama untuk menyusun pembelajaran maupun asesmen.
3. SIG sebagai lingkungan belajar. Sarah termasuk yang paling awal memandang GIS bukan sekadar perangkat lunak, melainkan lingkungan belajar. Ia meneliti apakah GIS mendorong inkuiri dan penalaran tingkat tinggi, sekaligus jujur mencatat tantangan penerapannya di kelas. Pesannya jelas: GIS harus mendukung penyelidikan geografis yang autentik, bukan berhenti pada pelatihan teknis.
4. Basis empiris. Ia mendorong bidang ini beralih dari argumen filosofis tentang “mengapa geografi penting” menuju bukti tentang apa yang benar-benar dipelajari siswa dan bagaimana penalaran geografis berkembang.
5. Jembatan ke teori pendidikan yang lebih luas. Karyanya jarang berhenti di geografi. Ia menghubungkannya dengan psikologi kognitif, ilmu pembelajaran, pendidikan STEM, dan asesmen pendidikan.
Jejak ini tampak dalam proyek-proyek besarnya, seperti Mission Geography (didanai NASA) dan Advancing Geospatial Skills in Science and Social Studies (didanai NSF), serta lebih dari 90 artikel dan bab buku. Ia juga terlibat dalam laporan Dewan Riset Nasional AS Learning to Think Spatially (2006) dan Standar Geografi Nasional. Karya besar terakhirnya, Handbook of Geography Education (2024), ia sunting bersama Jerry Mitchell.
Pemimpin yang membangun jembatan
Sarah menjabat Presiden American Association of Geographers (AAG) pada 2015–2016. Derek Alderman mencatat bahwa ia mendorong perhatian yang lebih serius pada mahasiswa sarjana, mempertanyakan mengapa orang memilih atau tidak memilih jurusan geografi, dan menyoroti rendahnya keterwakilan perempuan serta kelompok yang terpinggirkan. Ia juga menggagas program AAG Fellows dan mendukung penghargaan bagi departemen non-doktoral.
Satu gagasannya yang menurut saya sangat relevan bagi Indonesia: pendidikan geografi di sekolah dan di perguruan tinggi adalah satu ekosistem. Guru sekolah, katanya, bukan sekadar penerima ilmu dari kampus, melainkan mitra yang juga layak didengar. Di Indonesia, jarak antara dosen pendidikan geografi dan guru geografi di lapangan masih sering terasa. Gagasan Sarah bisa menjadi cermin yang baik.
Mentor yang melihat potensi sebelum kita menyadarinya
Bagian yang paling menyentuh dari artikel penghormatan itu adalah kesaksian tentang kepribadiannya. Injeong Jo mengenang bagaimana Sarah selalu melihat kemungkinan pada dirinya sebelum ia sendiri melihatnya. Sarah mengirim kartu ucapan pada ulang tahun pertamanya jauh dari keluarga sebagai mahasiswa internasional, merajut sweter dan sarung tangan mungil untuk putrinya, dan memberi komentar tulisan tangan di naskah mahasiswa. Jerry Mitchell juga mengaku arah kariernya berubah setelah dorongan singkat dari Sarah di sebuah pertemuan.
Ken Foote merangkum nilai yang mengikat semuanya: geografi penting karena manusia penting. Disiplin ini menjadi kuat ketika orang disambut masuk, didorong berkontribusi, dan didampingi sepanjang kariernya.
Apa yang bisa kita petik di Indonesia
Dengan bijak membaca warisan ini, saya melihat beberapa pelajaran bagi pendidikan geografi kita:
- Geser fokus dari “di mana” ke “mengapa di sana dan apa akibatnya”. Ini sejalan dengan semangat pembelajaran berbasis inkuiri dan penalaran yang kita kenal dalam Pembelajaran Mendalam
- Kembangkan keterampilan berpikir spasial secara eksplisit, termasuk membaca peta, menganalisis pola, dan bernalar lintas skala, lalu rancang asesmen yang benar-benar mengukurnya.
- Gunakan SIG sebagai alat berpikir, bukan sekadar materi teknis.
- Bangun riset pendidikan geografi berbasis bukti dari kelas-kelas kita sendiri.
- Rawat budaya mentoring. Menyapa lebih dulu, mendorong, dan menghubungkan orang adalah bentuk kepemimpinan yang paling sunyi tetapi paling berdampak.
Penutup
Saya tidak sempat belajar langsung di bawah bimbingan Sarah Bednarz. Namun lewat tulisan dan sedikit korespondensi, saya merasakan sendiri apa yang disaksikan murid-muridnya: beliau menyambut pembelajar dari mana pun, termasuk dari Indonesia.
Jika ada satu cara menghormatinya, mungkin adalah meneruskan keyakinan yang ia pegang sepanjang hidup: bahwa semua orang perlu belajar lebih banyak tentang geografi, dan bahwa berpikir secara geografis adalah hak setiap siswa.
Selamat jalan, Dr. Bednarz. Terima kasih atas ilmu dan teladannya.
Sumber utama: Jo, I., Acheson, G., Alderman, D. H., Fitzpatrick, C., Foote, K., Keller, K., & Mitchell, J. (2026). Remembering Sarah Witham Bednarz (1951–2026). Journal of Geography, 125(5), 181–186. https://doi.org/10.1080/00221341.2026.2715274
Karya Bednarz yang disebut: Bednarz & Kemp (2011), Understanding and nurturing spatial literacy, Procedia Social and Behavioral Sciences, 21; Bednarz & Mitchell (Eds.) (2024), Handbook of Geography Education, Springer; National Research Council (2006), Learning to Think Spatially.
Transformasi pendidikan dimulai dari kita. Sahabatnya siswa dalam belajar.
