Mahasiswa belajar dengan ChatGPT, simbol kolaborasi manusia dan kecerdasan buatan dalam pendidikan.

Belajar dengan ChatGPT: Saat Kecerdasan Buatan Menjadi Guru yang Tak Pernah Lelah

Belajar dengan ChatGPT: Saat Kecerdasan Buatan Menjadi Guru yang Tak Pernah Lelah

Bagaimana ChatGPT membantu mahasiswa belajar pemrograman—dan mengapa semangat belajar bisa meningkat meski nilai tak selalu naik. Kisah riset dari Hong Kong ini membuka arah baru pendidikan di era kecerdasan buatan.

Oleh Dwi Angga Oktavianto
transformasipendidikan.id | 2025


Mahasiswa, Bug, dan Guru Virtual

Suatu malam di Hong Kong, pukul sebelas lewat lima belas. Ruang laboratorium komputer di sebuah universitas nyaris kosong. Hanya tersisa seorang mahasiswa yang terus menatap layar monitor, wajahnya diterangi cahaya putih dari jendela NetBeans. Di layar itu, baris-baris kode Java saling berjejal, berwarna-warni seperti simpul labirin.

Dia menghela napas panjang. “Kenapa error terus, sih?” gumamnya.

Di ujung lain layar, ada tab kecil bertuliskan ChatGPT. Ia mengetik: “Kenapa program Java-ku tidak jalan padahal sintaksnya benar?”

Beberapa detik kemudian, muncul balasan:

“Kemungkinan Anda lupa menutup tanda kurung kurawal pada baris ke-57. Coba periksa kembali.”

Benar saja. Setelah menambahkan tanda kurung, program pun berjalan mulus. Ia tersenyum kecil. Tak ada dosen, tak ada teman kelompok, tapi ada seseorang—atau sesuatu—yang menjawab dengan sabar tanpa lelah.

Fenomena Global: Ketika AI Masuk Kelas

Sejak diluncurkan pada akhir 2022, ChatGPT tumbuh menjadi fenomena pendidikan terbesar dalam satu dekade terakhir. Di banyak universitas, dosen-dosen mulai menggunakannya untuk membuat lesson plan dan latihan ujian. Mahasiswa mengandalkannya untuk menulis kode, meringkas jurnal, hingga membuat refleksi pembelajaran.

Menurut survei Times Higher Education tahun 2024, lebih dari 70 persen mahasiswa di Asia Timur mengaku pernah menggunakan ChatGPT untuk membantu belajar. Angka itu meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

“AI telah mengubah cara siswa belajar. Mereka tak lagi menunggu guru memberi jawaban,” kata Di Zou, peneliti dari The Hong Kong Polytechnic University. “Tapi masalahnya, kadang mereka juga tak tahu bagaimana menilai jawaban AI.”

Sebuah Eksperimen di Hong Kong

Kekhawatiran itu mendorong Zilin Wang dan timnya di Hong Kong Metropolitan University melakukan riset sistematis. Mereka ingin menjawab pertanyaan sederhana tapi penting: apakah ChatGPT benar-benar meningkatkan kualitas belajar mahasiswa pemrograman?

Penelitian yang dimuat di jurnal Interactive Learning Environments (Oktober 2025) melibatkan 83 mahasiswa tingkat dua dalam mata kuliah Java Programming Fundamentals. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok: tradisional, ChatGPT, dan ChatGPT + self-regulated learning (SRL).

Hasilnya? ChatGPT membuat mahasiswa lebih termotivasi dan percaya diri, namun tidak otomatis meningkatkan nilai pemrograman mereka.

Antara Semangat dan Pemahaman

“ChatGPT bisa menjawab, tapi tidak selalu membuat mahasiswa mengerti,” kata Haoran Xie, anggota tim peneliti.

Penelitian ini mengungkap paradoks zaman digital: jawaban mudah ditemukan, tapi makna belajar justru makin kabur. Mahasiswa cepat puas setelah programnya berhasil, tanpa tahu alasan di balik keberhasilan itu.

Kelompok yang dilatih dengan SRL terbukti paling unggul dalam motivasi dan self-efficacy. Artinya, ChatGPT efektif bila dipadukan dengan kemampuan mengatur diri sendiri.

Apa Itu Belajar yang Diatur Sendiri

Self-regulated learning (SRL) adalah kemampuan seseorang untuk mengatur cara belajarnya sendiri: menetapkan tujuan, memantau kemajuan, dan merefleksi hasil. Dalam riset Wang dkk., ketiga tahapan ini dilakukan dengan bantuan ChatGPT.

ChatGPT bukan hanya pemberi jawaban, melainkan cermin berpikir—alat yang memantulkan proses belajar manusia.

Dialog Baru antara Manusia dan Mesin

Bayangkan ruang kelas masa depan: dosen di depan layar, mahasiswa di depan laptop dengan ChatGPT terbuka. Mereka berdiskusi, bukan sekadar menyalin jawaban. ChatGPT menjadi mitra belajar yang sabar—kadang benar, kadang keliru—namun selalu siap berdialog.

“Ketika mahasiswa mulai mempertanyakan jawaban ChatGPT, mereka sebenarnya sedang belajar berpikir seperti ilmuwan,” ujar Ruofei Zhang.

Dari Hong Kong ke Dunia: Implikasi Global

Riset ini menunjukkan peluang besar bagi pendidikan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. AI bisa menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri siswa, tapi tanpa strategi belajar mandiri, manfaatnya hanya semu.

“ChatGPT bukan guru, ia hanya jendela. Yang menentukan apa yang terlihat di balik jendela itu tetap manusia.” – Wang et al., 2025

Etika dan Ketimpangan Digital

Masalah lain muncul: ketimpangan akses dan etika. Tidak semua siswa memiliki koneksi internet atau layanan premium ChatGPT. Sementara di kampus, dosen masih bergulat dengan risiko plagiarisme dan ketergantungan teknologi.

Beberapa universitas kini mengajarkan literasi AI—etika menggunakan AI, bukan melarangnya. Seperti kalkulator di masa lalu, ChatGPT akan menjadi alat bantu standar belajar di masa depan.

Masa Depan: Belajar dengan, Bukan dari, ChatGPT

Kini, manusia tidak lagi belajar dari guru, tetapi dengan mesin. Peran guru bukan sumber pengetahuan tunggal, melainkan arsitek pengalaman belajar. ChatGPT membuka peluang untuk membuat pendidikan lebih personal, adaptif, dan reflektif.

Penutup: Belajar Menjadi Manusia di Era Mesin

“Tujuan kami bukan membuat mahasiswa bergantung pada ChatGPT, tetapi menjadikannya lebih sadar akan proses berpikirnya sendiri.” – Fu Lee Wang

ChatGPT mungkin tak memiliki kesadaran, tapi ia bisa membantu manusia mengenali dirinya sendiri. Tantangan pendidikan hari ini bukan lagi soal bagaimana menemukan jawaban, tetapi bagaimana menjaga kemampuan untuk terus bertanya.


Sumber Penelitian:
Wang, Z., Zou, D., Zhang, R., Lee, L.K., Xie, H., & Wang, F.L. (2025). ChatGPT-enhanced self-regulated learning in programming education: impacts on motivation, self-efficacy, and learning outcomes. Interactive Learning Environments. DOI: 10.1080/10494820.2025.2559919

Tagar: #ChatGPT #PendidikanDigital #SelfRegulatedLearning #TransformasiPendidikan #AIinEducation

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *