Sebuah catatan reflektif tentang jejak lama dalam gaya mengajar yang kini dianggap baru
Bayangkan kelas geografi yang tidak dibuka dengan definisi, melainkan dengan sebuah pertanyaan:
“Mengapa kawasan sekitar sekolah kita makin sering banjir?”
Siswa lalu turun ke lapangan. Mengamati, mencari data hujan, membaca peta, mewawancarai warga, lalu menyimpulkan sendiri.
Itulah yang hari ini disebut dunia pendidikan sebagai geographic inquiry, atau lebih populer lagi: Geo-Inquiry istilah yang belakangan identik dengan pembelajaran geografi berbasis GIS.
Yang menarik, semangat ini ternyata bukan barang baru di Indonesia.
Sebuah Kalimat dari 1988
Jauh sebelum GIS menjamur di sekolah, Daldjoeni dan Daru Purnomo sudah menuliskan gagasan ini dalam Majalah Geografi Indonesia, saat membahas Kurikulum 1984. Kalimatnya sederhana, tapi tajam:
“PBM haruslah dapat mengembangkan cara belajar untuk mendapatkan, mengelola, menggunakan, menilai, dan mengomunikasikan perolehan atau hasil belajarnya.”
Lima kata kerja itu—dapat, kelola, guna, nilai, komunikasi—adalah inti dari apa yang belakangan kita sebut sebagai keterampilan inquiry. Ditambah lagi, keduanya menekankan pentingnya outdoor study: belajar tak boleh berhenti di ruang kelas.
Amerika Juga Menuju Arah yang Sama
Sejarah pendidikan geografi Amerika Serikat menunjukkan pola serupa, meski jalurnya berbeda.
Sejak 1960-an, proyek besar High School Geography Project (HSGP) mendorong siswa mengajukan dan menjawab pertanyaan geografis lewat data dan simulasi—bukan sekadar menghafal fakta.
Lalu pada 1984, AAG dan NCGE menerbitkan Guidelines for Geographic Education, yang merumuskan lima proses inquiry:
Ask → Acquire → Organize → Analyze → Answer
Dua Tradisi, Satu Roh
Bandingkan saja:
Indonesia (1988) Mendapatkan → Mengelola → Menggunakan → Menilai → Mengomunikasikan
Amerika (1984) Ask → Acquire → Organize → Analyze → Answer
Tak ada bukti bahwa Daldjoeni dan Purnomo mengadopsi gagasan dari Amerika. Tapi kesepadanan pedagogisnya jelas: siswa diposisikan sebagai pelaku, bukan penerima pasif pengetahuan.
Maka keliru rasanya kalau GeoInquiry hari ini kita anggap semata “produk impor”. Ia lebih tepat dilihat sebagai prinsip universal—yang jejaknya sudah lama ada dalam pemikiran pendidikan geografi kita sendiri.
Dari Menghafal ke Melakukan Geografi
Geografi punya satu keistimewaan: objek kajiannya ada di sekitar kita. Banjir, kemacetan, perubahan lahan, pola permukiman—semua itu laboratorium yang nyata, tanpa perlu alat mahal.
Contoh sederhana untuk materi kepadatan penduduk:
Cara lama — guru menjelaskan definisi, faktor, teori, siswa mengerjakan soal.
Cara inquiry — guru memberi peta kepadatan, lalu bertanya: “Mengapa penduduk terkonsentrasi di wilayah tertentu?” Siswa bertanya, mengumpulkan data, mengorganisasi, menganalisis, menilai bukti, lalu mengomunikasikan temuan.
Bahkan tanpa GIS atau drone, pertanyaan sesederhana “mengapa satu sudut sekolah lebih panas dari sudut lain?” sudah cukup memicu proses inquiry yang utuh.
Menghidupkan Kembali Pesan Lama
Hari ini kita punya istilah baru: inquiry learning, spatial thinking, data literacy, evidence-based reasoning. Tapi pertanyaan dasarnya tetap sama seperti pada 1988:
Apakah siswa hanya menerima pengetahuan geografis, atau diberi ruang untuk menemukan, mengolah, menilai, dan mengomunikasikannya sendiri?
Guru geografi Indonesia tidak perlu menunggu teknologi canggih untuk mulai. Cukup satu topik, satu pertanyaan geografis yang baik, dan keberanian untuk tidak buru-buru memberi jawaban.
Karena geografi bukan kumpulan nama tempat dan definisi untuk dihafal. Ia adalah cara membaca ruang, menemukan pola, dan memahami hubungan manusia dengan lingkungannya.
Dan ternyata, semangat itu sudah pernah dituliskan oleh guru-guru kita sendiri—36 tahun sebelum kata “GeoInquiry” jadi tren.
Ditulis berdasarkan gagasan Daldjoeni & Daru Purnomo (1988) dengan Judul Menyoroti Kepincangan Pengajaran Geografi di SMA yang terbit di Majalah Geografi Indonesia (Hlm. 57-61) Edisi September, dibaca ulang dalam konteks perkembangan geographic inquiry global.
Transformasi pendidikan dimulai dari kita. Sahabatnya siswa dalam belajar.

Kaos bisa pesan disini
https://s.shopee.co.id/7AdJF1Cq0i?share_channel_code=1